Uang Panas dari Hasil Nyinyir di Medsos

By Tips
Uang Panas dari Hasil Nyinyir di Medsos

Image Source: https://www.dougsguides.com/sites/default/files/labor%20and%20capital.jpg

Para Buzzer ini dibayar karena banyak follower nya, ucap Enda Nasution, pengamat medsos juga tokoh weblog Indonesia saat berbincang dengan Merdeka melalui sambungan seluler pekan lalu. Dia menjelaskan, bayaran diterima bagi para buzzer ini bisa mencapai Rp 2 juta untuk sekali kicauan melalui medsos.

Bisnis kicauan melalui medsos ini pun mampu menghasilkan fulus berlimpah. Modalnya yaitu memiliki banyak followers dan tentunya orang itu memiliki pengaruh di jagad medsos. Jadi bukan sesuatu hal yang tak mungkin bila para buzzer dengan banyak followers ini juga dipergunakan untuk kepentingan politik.

IM, bukan nama sebenarnya bisa dikatakan kini sudah hidup di atas angin. Tak perlu waktu lama buat membeli rumah termasuk juga perabotan berikut kendaraan hanya dengan dengan modal menjual kicauan melalui medsos. Saban hari ia hanya memandangi reveal komputer untuk memantau pemberitaan. Jika ada berita miring tentang kliennya, buru-buru ia hajar habis-habisan.

Buat melaksanakan itu, IM bekerja sama dengan rekan-rekannya. Ada sekitar sepuluh orang ia rangkul untuk mengerjakan tugas membuat kicauan di setiap portal berita menyajikan informasi miring tentang kliennya. Jika ada lawan politik dari kliennya, IM juga tak segan-segan buat menyerang untuk menjatuhkan pamornya.

Kita meng-counter, bahkan ada kita sudah membuat panduan untuk menulis cuitan, ujarnya saat berbincang dengan Merdeka beberapa waktu lalu.

F, Salah seorang pemain baru dalam buzzer politik mengamini cerita IM. Dia mengucapkan bisnis menjadi buzzer politik ia sebut selaku konsultan medsos itu memang mendatangkan fulus berlimpah. Buat sekali kontrak sampai setahun, nilainya mencapai miliaran. Jadi bukan hal mengagetkan bila menjadi buzzer berkedok konsultan politik khusus mengadang pemberitaan tak positif dan membentuk opini publik itu kebanjiran fulus. Apalagi saat ini menjelang Pemilihan Kepala Daerah Serentak.

Satu orang yang kita rangkul saja bisa dibayar Rp 3 juta, kata F saat ditemui di restoran fastfood kawasan Tebet, Jakarta Selatan beberapa waktu lalu.

F mengucapkan, bila menjelang Pilkada Serentak bakal berlangsung warsa depan, dirinya sudah mendapat tawaran buat membentuk salah satu tim medsos salah satu pasang calon. Tugasnya yaitu mengadang pemberitaan tak positif yang menyerang kliennya dalam komen maupun kicauan di medsos. Kita tak bermain Sara dalam komen di pemberitaan, ucap F.

Sebetulnya, kicauan berbau kampanye politik dilaksanakan oleh para Buzzer Politik baik menggunakan akun nyata maupun anonim di portal pemberitaan maupun medsos bukan barang baru. Pengamat Komunikasi Politik dari Universitas Indonesia Irwansyah, mengucapkan keberadaan para warganet bayaran ini sejatinya sudah di endus sejak Pilgub DKI 2012 dan juga pada Pemilihan Presiden dua warsa lalu. Dia pun mencurigai bila para warganet bayaran ini memang sengaja di pelihara untuk membangun reputasi kembali.

Untuk cara kerja, Irwansyah menjelaskan, umumnya buzzer atau ia sebut selaku pasukan digital ini membuat pesan penting dalam kicauannya yang mengandung imej positif. Jika lawan politik dari kliennya bersebrangan, para buzzer bayaran ini tak segan-segan melakukan propaganda tak positif. Misal seperti menjelek-jelekan lawan politik dengan tujuan menjatuhkan pamor yang bersangkutan.

Tentu pasukan-pasukan ini terus dijaga dan tentu bisa saja bertumbuh buzzer ini menjadi sebuah profesi sekarang, ucap Irwansyah melalui sambungan seluler pekan lalu. Dia menambahkan, meski menggunakan pasukan virtual bertugas untuk menghalau pemberitaan tak positif, bisa jadi tak akan berdampak untuk meraih dukungan suara.

Makanya kita jangkapasukan bazzer ini pada pilkada 2017 akan makin banyak karena melihat keberhasilan-keberhasilan ataupun Pilgub DKI yang sebelumnya,. [arb]


Leave a Comment